๐—ฃ๐—ฎ๐—ธ ๐—”๐—ป๐—ถ๐—ฒ๐˜€ ๐—•๐—ฒ๐—น๐—ฎ๐—ท๐—ฎ๐—ฟ๐—น๐—ฎ๐—ต ๐—ธ๐—ฒ ๐—ฆ๐—ฒ๐—บ๐—ฎ๐—ฟ๐—ฎ๐—ป๐—ด

Akhirnya saya mulai mengerti, apa yang dimaksud naturalisasi. Ternyata, kami di rumah sebenarnya telah menjalankan itu. Taman rumah yang berisi pohon2 dan rumput, mampu menangkap & menyerap air hujan. Sederas apapun hujan selama ini, dalam hitungan jam air akan surut. Namun, saya tidak akan gegabah merekomendasikan kebijakan โ€œnaturalisasiโ€ ini dengan mempertaruhkan nyawa lebih dari 10 juta orang di Jakarta hanya dari pengalaman di rumah, tanpa kajian lebih mendalam.

Di berita CNN ini (https://www.cnnindonesia.com/โ€ฆ/anggota-tgupp-anies-soal-cegโ€ฆ), anggota TGUPP menjelaskan naturalisasi. Bahkan ia mengaku dialah yang menyarankan kebijakan naturalisasi pada Anies, serta memperlihatkan video keberhasilan menerapkan itu di rumahnya. Lalu, ia menyombongkan Jakarta akan bebas banjir hanya dalam enam bulan, bila menjalankan naturalisasi.

Siapa tidak jengkel dengan pernyataan ini, Gubernur Anies sudah menjabat 2 tahun & menjanjikan naturalisasi akan terlihat hasilnya akhir 2019. Seperti dijanjikan, namun hasilnya sebaliknya, persis 31 Desember 2019 hujan deras dan tanggal 1 Januari 2020 Jakarta tenggelam. Dua tahun telah berjalan hasilnya fatal, ini kok diklaim dalam 6 bulan Jakarta bebas banjir.

Berdasar penjelasan anggota TGUPP maksud naturalisasi ternyata sederhana, hanya menangkap air hujan dan diresapkan ke tanah. Terlepas senang atau tidak senang dengan fakta ini, naturalisasi sebenarnya juga sudah dijalankan gubernur sebelumnya (Ahok), disamping menjalankan normalisasi (sungai). Itu dilakukan melalui pengembangan situ, waduk, embung, kanal, sumur resapan dan biopori. Beberapa waduk yang dikeruk (dan membongkar bangunan liar), misalnya Waduk Rawa Bandung, Waduk Kebon Melati dan Waduk Pluit, untuk mengembalikan fungsinya sebagai waduk menangkap air hujan. Yang paling heboh tentu saja Waduk Pluit.

Waduk Pluit sangat besar, sehingga efektif menangkap air hujan dalam skala besar. Akan tetapi, waduk yang semula luasnya 80 hektar menyusut menjadi 60 hektar. Kedalaman waduk awal 20 meter berkisar menjadi 1-5 meter, sangat dangkal. Perjuangan pengembalian fungsi Waduk Pluit ini begitu dramatis, tidak mudah & heboh sekali di media massa, karena harus membongkar banyak sekali bangunan liar. Foto citra satelit Waduk Pluit tahun 2012 dan 2016 (diunggah alm. Sutopo dari BNPB), memperlihatkan Waduk Pluit yang akhirnya bisa berfungsi lebih normal, sebagai penangkap air hujan (naturalisasi).

Pada skala lebih mikro, seperti dikutip Tribun, laporan kinerja gubernur (Pak Ahok) tahun 2014 menyampaikan telah membuat 272 sumur resapan dan sekitar 700 ratus ribu lubang biopori. Pada prinsipnya biopori ini lubang kecil yang dibuat di pekarangan rumah/bangunan, untuk menangkap air hujan diresapkan ke tanah. Memang biopori ini kecil, namun bila jumlahnya ratusan ribu atau jutaan, maka akan bisa meresapkan (menangkap) air hujan pada skala besar.

Dengan fakta2 tersebut, gubernur sebelumnya justru sebenarnya juga telah melakukan naturalisasi (disamping normalisasi), dengan tanpa sedikitpun mengatakan menjalankan naturalisasi. Naturalisasi-nya dilakukan dalam skala sangat besar (Pluit), besar (waduk menengah), kecil (sumur resapan) dan mikro (biopori). Saya tidak tahu, apa saja yang telah dilakukan Anies untuk menjalankan ide naturalisasi dan skalanya seberapa besar. Apakah sekarang justru lebih sedikit dilakukan, saya juga tidak tahu karena tak ada data/informasi.

Naturalisasi ini adalah hal yang sederhana, kok kayak jadi ruwet banget. Namun yang harus dicatat, kelemahan naturalisasi adalah โ€œkejenuhan tanahโ€ menyerap air. Bila terjadi hujan terus-menerus atau terendam, tanah tentu saja tak akan mampu terus-menerus menyerap air. Saya rasa, kita semua pasti tahu itu.

Dalam sebuah video yang beredar, Anies juga menjelaskan perbedaan normalisasi dan naturalisasi melalui slide presentasi. Anies memperlihatkan perbedaan Jakarta, serta mengidealkan Jepang dan Singapura yang menjalankan naturalisasi. Itu yang harus diikuti, menurutnya.

Saya sekitar tahun 2014 ke Jepang dan sempat melihat2 sungai disana (awal tahun rencana ke sana lagi, nanti akan saya buat catatan tentang pengelolaan sungai lebih detail), namun tentu yang lebih sering ke Singapura karena dekat. Kebetulan suatu waktu, juga sempat mendiskusikan sejarah pengelolaan penangangan kekumuhan pinggir kali dan polusi sungai sambil menyusuri sungai disana. Waktu itu, saya dalam rangka visitasi ke Lee Kuan Yew School of Public Policy. Namun membandingkan negara-negara lain di Asia, sebenarnya yang lebih canggih dalam penanganan sungai dan banjir adalah Korea Selatan.

Di Seoul, Sungai Cheonggyecheon disulap selama 2 tahun dari kumuh menjadi kinclong sekaligus fungsional mengatasi banjir. Sungai itu sangat indah & menjadi kawasan wisata. Belum bisa disebut wisata ke Korea kalau belum melihat sungai itu. Bukan hanya jernihnya air yg membuat kita bisa melihat ikan2 berenang dengan bebasnya, tapi yg membuat saya takjub adalah sulit sekali kita mencari satu potong sampah di sungai. Jalan2 di sungai ini di malam hari, disamping indah, rasanya juga sangat aman. Malam yg temaram diterangi pijar lampu membuat suasana romantis. Sesuatu yg mungkin kita sulit bayangkan karena semrawutnya penataan sungai kita, sungai biasanya kita hindari dengan menutup hidung.

Akan tetapi, bila di tingkat dunia, tidak ada tempat yang lebih hebat menangani air selain Belanda. Di Kota Delft ada IHE Delft Institute for Water Education yang didukung UNESCO dan menjadi tempat studi pascasarjana internasional terbesar di dunia tentang pengelolaan air. Tentu saja UNESCO mendukung ini dengan alasan kuat. Sekitar 20 persen wilayah Belanda di bawah permukaan laut dan 50 persen lainnya kurang dari 1 meter di atas permukaan laut.

Di musim dingin pada tanggal 31 Januari 1953 malapetaka terjadi, gelombang setinggi 30 meter menghempas pantai. Air yang hampir membeku menghempas kota membuat banjir bandang. Tanggal 1 Februari adalah mimpi yang sangat buruk bagi Belanda. Lebih dari 1800 orang mati, tenggelam atau menggigil kedinginan. Tahun 1953 menandai peradaban baru Belanda tentang air. Berdasarkan studi ekstensif Belanda dan Inggris (yang juga mengalami bencana), Belanda kemudian membangun Delta Works, sistem bendungan dan pertahanan untuk menahan gelombang laut dan banjir.

Proyek Delta Plan membentengi daratan dari ancaman Laut Utara. Tiga belas bendungan raksasa dibangun bertahap selama 39 tahun. Salah satu bendungan itu, saya lihat tahun 2005 di Rotterdam sungguh menakjubkan besarnya. Belanda dan air seakan seperti tak terpisahkan. Warga merasa aman dan air menjadi sahabat serta bagian budaya. Jangan kaget bila di Belanda melihat permukaan sungai lebih tinggi dari jalan. Bahkan, sungai yang tidak terlalu lebar pun digunakan kapal membawa kontainer yang bebas macet. Transportasi sungai, rumah kapal atau wisata sungai adalah bagian dari kehidupan di Belanda. Pengalaman saya belajar & tinggal di Belanda, sungguh menyenangkan.

Meski kita bisa belajar banyak dari berbagai negara yang saya sebutkan, namun untuk Jakarta saya justru menyarankan untuk belajar ke Semarang. Tentu saja, ini bukan karena saya lahir dan berasal dari Semarang. Jakarta memiliki โ€œkeunikanโ€ karena lokasinya berada di bawah dan pinggir laut. Jakarta bukan hanya rentan banjir karena curah hujan tinggi dan air pasang laut, namun juga banjir kiriman dari atas (puncak, Kab. Bogor). Kerentanan banjir di Belanda, lebih pada curah hujan dan pasang laut, namun kurang terlalu mengkhawatirkan soal banjir kiriman yang datang tiba-tiba.

Kota Semarang lebih mirip Jakarta, bahkan mungkin lebih rentan banjir dibandingkan Jakarta. Sebesar 40 persen Kota Semarang berada di wilayah dataran rendah, sebagian bahkan berada 2 meter di bawah permukaan laut. Wilayah bagian bawah ini dikenal sebagai kota bawah (Semarang Ngisor), sekaligus menjadi pusat aktivitas perekonomian. Kota Semarang juga memiliki wilayah perbukitan yang dikenal sebagai kota atas (Semarang Dhuwur). Wilayah perbukitan kota atas juga merupakan kawasan hulu dari sungai – sungai besar yang mengalir di Kota Semarang. Wilayah kota atas juga bagian dari bentang kaki gunung api Ungaran.

Banjir bandang Januari 1990 adalah trauma bagi warga Semarang. Dicatat Suara Merdeka, air bah banjir kiriman tiba-tiba menerjang dari arah Gunungpati dan Ungaran. Banjir bandang menenggelamkan sebagian Kota Semarang dan sekitar 100 orang meninggal yang menyebar. Suasana akibat banjir kiriman sangat mencekam, bunyi kentongan berkali-kali dan teriakan warga menjerit. Yang tragis, puluhan karyawan pabrik garmen tewas karena terkunci ketika banjir tak diduga ini.

Di Semarang, istilah โ€œbanjir robโ€ adalah bagian dari hidup sehari-hari. Banjir rob adalah banjir akibat luapan air pasang laut. Dulu saya di Simpang Lima Semarang (pusat kota), hanya makan di mall kurang dari satu jam & hujan rintik, keluar mall di kawasan Simpang Lima tiba-tiba menjumpai air sudah sepaha. Ini karena banjir rob yang begitu cepat.

Banjir di Kota Semarang hampir bisa dipastikan terjadi bila hujan. Lagu keroncong โ€œSemarang Kaline Banjirโ€ (Semarang Sungainya Banjir) dari Waljinah sangat populer, lagu itu benar2 cerminan Kota Semarang. Namun meski terancam dengan banjir kiriman (Ungaran dan Gunungpati) dan banjir rob (air pasang laut), kini Kota Semarang tidak seperti lagu Waljinah itu.

Meskipun akhir tahun 2019 diguyur hujan deras semalaman seperti Jakarta, Detik memberitakan tak seperti tahun-tahun sebelumnya tak terlihat titik banjir di Kota Semarang. Tanpa menyalahkan adanya banjir kiriman dari daerah lain, Kota Semarang melakukan normalisasi sungai Banjir Kanal Timur dan Banjir Kanal Barat termasuk membangun Bendung Gerak.

Bendung Gerak Banjir Kanal sangat vital karena berfungsi menahan air laut (rob), bila laut pasang. Bendung tersebut juga digunakan untuk menahan aliran air sungai ke laut terutama saat kemarau, sebagai penampungan dan menjaga debit air. Akan tetapi bila elevasi sungai 2,5 meter, maka pompa yang mampu mengalirkan puluhan ribu liter air per detik akan menyalurkan ke laut. Ini akan sangat berguna dan vital, terutama bila terjadi banjir kiriman datang tiba2.

Di media sosial kita jumpai warga Jakarta yang marah2, karena sebelumnya tak pernah terkena banjir namun awal tahun ini menjadi korban banjir. Ini justru sebaliknya terjadi di Kota Semarang. Coba periksa akun instagram Walikota Semarang (Hendrar Prihadi) yang mengunggah video pompa atau tahun baru, kebanyakan isi komentarnya ucapan terima kasih warga Semarang yang dulu daerahnya kena banjir, namun kini sudah terbebaskan.

Kembali ke soal naturalisasi. Seperti yang dikatakan Kepala Bappenas (Suharso Monoarfa), tren kota yang ideal memang seharusnya menjadi semacam spons yang menangkap dan menyerap air. Akan tetapi, bila kota sudah terlalu padat maka hal tersebut tidak akan terjadi secara ideal, apalagi di Jakarta. Megapolitan Jakarta yang sudah dipadati berbagai bangunan, beton dan aspal, sudah terlambat untuk secara ideal menjadi kota spons. Kalau di ibukota baru, ini harus dilakukan dan didesain dari awal.

Murni menjalankan naturalisasi di Jakarta jelas bunuh diri. Padatnya bangunan, aspal dan beton, jelas tidak akan menyerap air. Volume hujan yang tinggi, banjir rob dan banjir kiriman adalah kenyataan yang harus dihadapi saat ini di Jakarta. Hanya mengandalkan naturalisasi, jelas Jakarta akan tenggelam. Mengambil contoh Jepang dan terutama Singapura, jelas kurang tepat karena mereka tidak mengalami banjir kiriman yang besar dan mendadak dari daerah gunung atau perbukitan.

Saya terus terang heran, pengambilan contoh dua negara itu tanpa mempertimbangkan karakteristik wilayah yang berbeda, ini kekeliruan fatal dalam pengambilan kebijakan. Meski kedua negara itu negara maju, namun tak perlulah kita silau. Jakarta justru perlu belajar dari Kota Semarang untuk mengatasi banjir, daerah yang memiliki topografi mirip.

Menurut saya, Anies tidak perlu gengsi belajar ke Semarang untuk segera mengatasi banjir. Saat ini, jutaan warga Jakarta khawatir & tidak akan bisa tidur nyenyak ketika hujan deras. Siapapun bisa jadi korban, karena daerah yang sebelumnya tidak banjir ternyata bisa banjir. Apalagi guyuran hujan yang menenggelamkan Jakarta awal tahun ini, diperkirakan belum sampai pada puncaknya.

Sudah cukup korban yang meninggal dunia atau sakit karena banjir, jangan ditambah lagi. Jangan ada lagi orang yang stres atau linglung, karena harta yang dikumpulkan bertahun-tahun dengan susah payah hancur karena banjir. Melihat hal itu, sungguh menyedihkan dan kita harus menolong. Jangan sampai ini bertambah lagi. Sudah cukup Pak Anies..๐Ÿ˜ž๐Ÿ˜ž

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!