๐—ฃ๐—ฒ๐—ฟ๐—ท๐—ฎ๐—น๐—ฎ๐—ป๐—ฎ๐—ป ๐—ฆ๐—ฝ๐—ถ๐—ฟ๐—ถ๐˜๐˜‚๐—ฎ๐—น ๐—ธ๐—ฒ ๐—˜๐—ฟ๐—ผ๐—ฝ๐—ฎ dan ๐—ฃ๐—ฎ๐—ฝ๐˜‚๐—ฎ

Saya beruntung pesawat yang saya tumpangi terlambat di Doha (Qatar) dalam perjalanan dari Jerman ke Indonesia. Artinya, saya dapat fasilitas hotel di Doha untuk menunggu pesawat lainnya ke Jakarta. Menikmati fasilitas hotel yang โ€œwahโ€ & makanan Timur Tengah yg ternyata enak sekali. Namun, bukan itu sebenarnya yg membuat saya exciting.

Hal yg menakjubkan adalah terlihat modernnya kota Doha, saya berkesempatan mengamati mobil2 mewah berseliweran, keteraturan, museum & terang-benderangnya kota. Mungkin sekitar 30-an negara sudah saya kunjungi di 6 benua, namun tak pernah terlintas di pikiran saya untuk mengunjungi Qatar atau negara-negara Timur Tengah. Saya terus terang khawatir dengan konflik yang sering terjadi, kalau sudah cukup damai & terbuka mungkin akan segera masuk daftar saya. Sungguh beruntung saya tiba-tiba bisa โ€œterpaksaโ€ sampai di Qatar, negara terkaya di dunia.

Qatar menggenapi โ€œperjalanan spiritualโ€ saya beberapa waktu lalu, sekitar dua minggu menelusuri pinggiran Jerman, Perancis, Belgia dan Luxemburg. Mungkin bagi โ€œwisatawan konvensionalโ€, hal yang menarik adalah spot2 indah & terkenal. Tentu saya tertarik & sebagian juga seperti itu, namun hal yang lebih menarik perhatian saya adalah mengamati areal pertanian yg begitu luas seperti tanpa batas, peternakan sapi yg luas & efisien, kincir angin listrik sepanjang jalan bebas hambatan, solar panel yang luas & juga di atap rumah, obsesi mengurangi emisi dengan lintasan listrik jalan untuk truk-truk besar, benteng & perumahan yg didukung pertanian sudah tertata rapi sebelum tahun 1000-an, sungguh menakjubkan.

Lalu museum sains & teknologi, serta museum BMW, sebuah evolusi & revolusi keteknikan serta sains yang penuh passion & semangat serta menjadi spirit Jerman (uber alles). Lalu juga museum peradaban Eropa di Belgia, perjalanan pahit getir Eropa yg penuh konflik hingga perang dunia 2 yang traumatis & memaksa perdamaian, berkembang menjadi negara2 yang modern & beradab, serta seperti menanyakan akan kemanakah Eropa ke depan. Di depan museum ada poster besar tulisan dengan 4 bahasa, โ€œEropa mempunyai tugas menjadi contoh demokrasi dan penghormatan pada hak asasi manusiaโ€. Lalu yang membuat terkesan dari Luksemburg adalah tagihan harga makan siang yang lumayan…hehehe

Qatar dan negara Eropa terutama Luksemburg adalah dua negara terkaya di dunia (versi PPP & nominal). Dua negara ini tiba2 terbayang. Pendapatan per kapita Luxemburg mendekati 30 kali lipat Indonesia, tak mengherankan saya merogoh kantong yg cukup dalam. Qatar juga tentunya, untung dapat fasilitas gratis…ย ๐Ÿ˜Š

Kilatan memori perjalanan beberapa bulan lalu ini begitu cepat berkelebat muncul, ketika saya berkesempatan mengikuti acara di Papua & Papua Barat. Perjalanan ini tampaknya menjadi โ€œperjalanan spiritualโ€ yang lain. Kesempatan ini tentu saja saya pergunakan untuk mengamati kehidupan masyarakat di sini. Mungkin ini perjalanan yang terlalu singkat memberikan gambaran, tapi biarkanlah subyektifitas ini.

Biaya hidup di Papua/Papua Barat mungkin juga tidak murah dibandingkan wilayah lainnya di Indonesia, karena bahan pangan agaknya cukup banyak โ€œdiimporโ€ dari pulau lain. Namun, yang menyentuh hati adalah mama-mama yang berjualan pinang ditumpuk kecil2, pisang, ikan, jambu biji besar, sagu, mangga, dll yang dijual dengan jumlah tak seberapa. Harga ikan begitu murah disini, ikan tuna besar yang beratnya kira2 satu setengah kilo hanya dijual 50 ribu, yang lebih besar & besar sekali 60 ribu & 100 ribu. Minggu ini di rumah saya pesta makan ikan tuna. Pinang lupa saya tanyakan, namun saya dapat informasi djual sekitar 5-10 ribu.

Berdesir saya tiba2 malam2 teringat โ€œperjalanan spiritualโ€ saya ke Eropa waktu lalu & kini di Tanah Papua. Sebenarnya mungkin tidak tepat bila dibandingkan, karena Eropa Barat memang jauh lebih maju dari pada wilayah Indonesia pada umumnya. Namun, hati & perasaan bukanlah logika. Sungguh kontras perbedaan dunia ini. Malam terasa sangat panjang, matapun jadi sulit terpejam..ย โ˜น

Paginya tak mengherankan, acara yang saya pandu penuh dengan ungkapan kegelisahan, cerita yang menyentuh hati & kemarahan. Tentang kesehatan yg buruk, kampung-kampung tanpa guru, kualitas hasil pendidikan, dll. Memang banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan di Tanah Papua untuk pembangunan. Semoga gotong royong semua pihak akan segera mengakselerasi pembangunan.

Akan tetapi, ada hal yang sungguh melegakan hati yaitu pas acara untuk anak muda. Di Jayapura, dari target paling tidak sampai 100 orang namun yang datang sekitar 300 orang. Panitia awalnya kesulitan meng-handle peserta karena antrian yang panjang & kapasitas kursi yg terbatas, ketegangan sangat terasa. Untunglah hal ini segera bisa diatasi, peserta ternyata berjubel berdiri tanpa keberatan.

Acara tersebut dishare melalui social media, sungguh luar biasa ternyata yang datang ini jauh lebih banyak dibandingkan di 6 provinsi lain di Indonesia. Sharing dari anak muda yang menginspirasi juga salah satunya menggunakan social media (youtube) untuk mengembangkan pariwisata & kerajinan. Mereka juga belajar dari internet. Sungguh luar biasa teknologi informasi dan anak muda ini. Internet mengatasi persoalan geografis & keterisolasian. Siapapun bisa belajar.

Apa yang disampaikan anak2 muda di tanah Papua tidak terlalu jauh berbeda dengan apa yang disampaikan di daerah-daerah lain. Anak-anak muda ini adalah energi dari kemajuan.

Gojek (Go Food)/Grab ternyata juga sudah merambah tanah Papua. Mungkin pasar virtual (online market) juga akan bisa mempercepat dan membantu mendorong kesejahteraan & ekonomi Papua. Dunia digital akan mendorong perubahan. Saya jadi teringat tulisan saya 16 tahun lalu tentang mengatasi โ€œdigital divideโ€, bila ini sudah dijalankan dari dulu, mungkin akselerasi pembangunan di daerah terpencil & terisolasi lebih bisa dipercepat. https://bit.ly/31Lq7Rh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!