Demokrasi Ekonomi melalui Demokratisasi Energi

Dengan risau mesti diakui, masa depan dunia sangatlah muram. Sekjen PBB António Guterres memperingatkan, kode merah umat manusia telah menyala. Sayangnya hasil Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim PBB atau COP26, hanya membawa kemasgulan. Rendahnya komitmen negara maju dan negara besar berpengaruh mengandaskan harapan. Bumi ibarat kapal terbakar hampir tenggelam, bukannya memadamkan api namun rebutan dan mempertahankan periuk terus terjadi. Hasil kesepakatan, begitu normatif dan minim ambisi.

Bumi memanas melampaui 1,5 derajat celcius dibandingkan masa pra-industrial, tak terelakkan akan terjadi. Bahkan skenario kenaikan hingga 3 derajat, telah muncul. Bila ini terjadi maka tak ada tempat aman di bumi, demikian disampaikan The Economist. Ekosistem laut sekarat karena matinya terumbu karang. Gunung es mencair menaikkan permukaan laut dan melenyapkan banyak pulau dari peta. Banjir dan kekeringan ekstrem akan datang silih berganti.

Sebuah riset menunjukkan, kenaikan 1 derajat celcius meningkatkan kemungkinan konflik antar kelompok sebesar 11,3 persen. Film fiksi ilmiah bumi kering kerontang dan penuh konflik perebutan sumber daya, bisa terjadi nyata. Bencana dalam skala global yang melampaui dashyatnya pandemi COVID-19, di depan mata. Sebagian generasi Y, milenial dan terutama generasi Z serta setelahnya, mungkin akan mengalami.

Sebenarnya, konflik besar “disumbangkan” perubahan iklim telah terjadi. Sebuah studi memperlihatkan, Suriah menderita kekeringan terburuk sepanjang 2007 hingga 2010. Gagal panen dan ternak mati, membuat 1,5 juta orang eksodus ke kota. Kejutan penambahan populasi besar membuat krisis hebat air dan pangan. Persoalan perut, memperburuk ketidakpuasan sosial-politik. Dengan bergidik dunia menyaksikan, perang saudara kejam membuat negara berperadaban tua remuk.

Dan celakanya, sebuah riset memperlihatkan bahwa Indonesia termasuk 5 negara paling terdampak perubahan iklim. Kekeringan dan banjir ekstrem akan berpengaruh pada produktifitas dan ketersediaan pangan. Seringnya bencana berimplikasi pada persepsi keselamatan, sehingga mempengaruhi image pariwisata yang mulai menjadi andalan.

Menyaksikan skenario begitu suram, lalu apa yang mesti dilakukan. Pertanyaan merisaukan dan setengah putus asa, apakah masih ada jalan keluar bagi Indonesia? Agaknya, tidak perlu pesimis. Bahkan sebaliknya, tantangan hebat ini justru menjadi peluang besar.

Perubahan iklim telah menjadi isu bersama dunia. Kerisauan keberlanjutan bumi makin menyatukan manusia dan ini pertama kalinya dalam sejarah. Kegagalan mengatasi perubahan iklim adalah mega krisis kemanusiaan berskala global. Isu lingkungan yang dulu hanya diteriakkan aktivis, kini menjadi perhatian investor. Glasgow Financial Alliance for Net Zero (GFANZ) yang merupakan aliansi 295 institusi keuangan dunia dan mengelola Rp 1.820 kuadriliun aset, berkomitmen mendorong net zero emission.

Indonesia adalah satu dari 10 negara terbesar pencemar emisi dengan sektor energi dan transportasi menjadi beberapa kontributor utama. Mayoritas energi listrik bersumber batubara dan transportasi berbahan bakar fosil. Tantangan terbesar pengembangan listrik energi terbarukan adalah dari sisi permintaan (demand side). Pulau Jawa telah mengalami oversupply listrik. Namun, konsumsi listrik per kapita Indonesia sebenarnya masih di kisaran 1.100 kWh. Sebagai perbandingan, Malaysia konsumsinya lebih dari 4 kali.

Disrupsi permintaan listrik perlu dilakukan di sektor rumah tangga dengan mengubah kompor elpiji menjadi kompor listrik. Defisit perdagangan sekitar Rp 60 triliun per tahun juga terjadi akibat impor elpiji, lalu pemerintah memberikan subsidi Rp 50 triliun per tahun untuk rakyat miskin. Di lapangan sangat mudah disaksikan subsidi “elpiji melon” meleset sasaran, siapapun bisa membeli entah kaya atau miskin.

Indonesia pernah mendisrupsi kebiasaan penggunaan minyak tanah menjadi elpiji, kini saatnya ditransformasikan menggunakan listrik seperti negara maju.  Kompor listrik disamping lebih bersih dan rendah emisi, juga lebih murah daripada elpiji. Kompor listrik (induksi) perlu mendapat insentif agar terjangkau, lalu subsidi elpiji diubah menjadi subsidi listrik yang lebih tepat sasaran sekaligus dengan peningkatan daya. Melalui hal ini, kue ekonomi listrik berpotensi bertambah setidaknya 60 triliun sekaligus mengurangi defisit perdagangan.

Kendaraan listrik adalah potensi lain konsumsi listrik. Pengembangan kendaraan listrik lambat, salah satunya karena keterbatasan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). Untuk mengatasi ini, caranya tidak sulit. Pemerintah hanya perlu mengeluarkan regulasi pada pengelola lahan parkir lebih dari 50 mobil, hotel minimal bintang 4 dan pusat perbelanjaan wajib memiliki fasilitas fast charging. Beberapa hotel dan mal sebenarnya sudah memiliki, untuk menaikkan reputasi dan pendapatan. Melalui regulasi itu, belasan ribu “SPKLU” tiba-tiba tersedia dan bahkan melampaui jumlah SPBU.

Transisi melalui mobil hybrid (HEV), tak perlu menjadi pilihan. Mobil hybrid bagaikan kendaraan yang menggotong generator listrik berbahan bakar fosil secara permanen. Kapasitas baterai mobil listrik, sudah memadai untuk aktivitas sehari-hari,. Bila sesekali keluar kota dan masih khawatir kehabisan listrik, bisa membawa genset portable silent terjangkau seharga 6 jutaan. Genset listrik sebesar koper kecil itu selain untuk charging, juga berguna mengatasi padam listrik rumah atau aktivitas outdoor.

Tantangan lain mobil listrik adalah harga di atas 600 juta rupiah. Bila sebegitu mahal, mobil listrik sulit berkembang. Sebenarnya di dunia, kompetisi mobil listrik mulai ketat dan makin banyak pilihan terjangkau. Bahkan, kini mobil listrik berjenis sport utility vehicle (SUV) dengan jangkauan lebih dari 400 km harganya berkisar 300 juta rupiah mulai dipasarkan di China, Australia dan Eropa. Ini sekaligus menggugurkan mitos, mobil listrik mahal.

Insentif mobil listrik perlu diberikan bukan hanya pajak barang mewah, namun juga pada bea masuk, pajak pertambahan nilai dan pajak penghasilan. Insentif dikurangi ketika pasar dan ekosistem kendaraan listrik telah kondusif, sehingga produksi dalam negeri berkembang. Segmen pasar gemuk dan harga terjangkau, segera membuat mobil listrik menjadi pemandangan sehari-hari di Indonesia.

Bila kompor listrik dan kendaraan listrik memasyarakat, konsumsi listrik per kapita bisa meningkat minimal 50% dalam 5 tahun dan terus meningkat. Implikasinya kebutuhan produksi listrik melonjak dengan nilai ekonomi sekitar 150 triliun per tahun. Mengingat pembangunan pembangkit listrik batubara baru dihentikan, inilah kesempatan berkembangnya listrik energi terbarukan.

Listrik energi terbarukan selain pemasangan cepat juga makin murah, terutama tenaga surya. Untuk penyimpanan, kehandalan dan stabilisasi listrik perlu dibangun battery storage power station oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). Ini sekaligus mendukung industri dalam negeri karena Indonesia segera menjadi produsen baterai listrik, sehingga baterai tidak perlu diimpor.

Secara umum, pembangkit listrik energi terbarukan kapasitasnya tidak sebesar tenaga batubara. Ini justru bagus, karena kue ekonomi terdistribusi dan Indonesia bisa menjadi “kebun energi terbarukan” dari pemain besar, kecil dan bahkan skala rumah tangga. Green jobs akan tercipta sekitar 1 juta orang dalam jangka pendek dan 3 juta dalam jangka menengah, tergantung kecepatan transisi.

Bila tahun 2030 transisi energi terbarukan berjalan lancar, kue ekonomi listrik terbarukan sekitar 600 triliun akan terbagi luas. Melalui demokratisasi energi ini, maka mendorong demokratisasi ekonomi pula. Indonesia juga akan lebih bersih, rendah emisi dan sekaligus mengatasi defisit perdagangan lebih dari 300 triliun rupiah per tahun minyak dan elpiji.

Ini adalah peluang sekali seumur hidup. Kini saatnya pemerintah total football determinatif dari segi kebijakan, insentif dan anggaran untuk mengembangkan berbagai potensi energi terbarukan, termasuk dalam applied research. Karena perubahan iklim tetap menjadi fokus utama dan membutuhkan global collective action, Presidensi Indonesia dalam G20 tahun 2022 perlu memperlihatkan gestur leading by example. Inilah kesempatan Indonesia menunjukkan kapasitas global leadership by action, sekaligus membuka kerjasama konkret pengembangan energi terbarukan, kendaraan dan baterai listrik yang menjadi kunci negeri ini maju.***

Dimuat di Kompas, 20 Desember 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!