Derita Perjalanan Menuju Sebuah Bangsa

Lewat esainya, psikososial MAW Brouwer menuliskan kesan yang mendalam tentang Indonesia. Damned strange country, very very misterius. Negeri yang aneh, sangat aneh dan penuh rahasia. Orang selalu tertawa, selalu tersenyum, selalu bersenda-gurau tetapi… simsalabim hilanglah kepalamu.

Clifford Geertz seorang sosiolog Indonesianist, juga tak kalah “misterius” mengungkapkan pandangannya tentang Indonesia. The crocodile is quick to sink, but slow to come up. Walaupun airnya kelihatan tenang tetapi ada buayanya. We can only wait for the crocodile! Begitu ujarnya.
Indonesia memang tak mudah ditebak, bahkan sangat rumit. Banyak hal yang akan terjadi, lebih banyak dari apa yang kita pikirkan. Kemajemukan suku bangsa, ras, bahasa, dan agama, dalam negara kepulauan yang masing-masing mempunyai sejarah sendiri, cukup potensial untuk terjadi friksi atau eksplosi.

Memang ledakan akibat benturan sentimen primordial akan lebih lambat dari perkiraan. Namun menurut Geertz, primordialisme itu masih ada, masih dalam, dan ekspresinya masih cukup terbuka. “Buaya” itu masih ada di sana. Dan menurut dia, pembunuhan massal 1965 itu mungkin akan muncul kembali di kemudian hari.

Indonesia merupakan bangsa yang majemuk adalah sebuah kenyataan. Usaha apa pun untuk mengurungnya ke kerangka apa pun yang ketat, entah ideologi tinggi seperti yang dilakukan Soeharto, atau nasionalisme seperti dilakukan oleh Soekarno, atau Negara Islam, atau yang lainnya, akan membawa bencana. Indonesia terdiri dari begitu banyak macam orang sehingga semuanya harus dihargai. Penyeragaman merupakan usaha yang fatal, setiap daerah harus dihargai karena mempunyai keunikan dan kekhasan sendiri.

Buku Mencari Demokrasi ini merupakan kumpulan dialog dari para Indonesinist kampiun seperti Ben Anderson, Clifford Geertz, Daniel Lev, George Kahin, Takashi Shiraishi, William Liddle, serta Goenawan Mohamad. Karena para penulis tersebut kebanyakan berasal dari luar Indonesia, mereka berupaya tanpa beban mengungkapkan apa adanya tentang derita-derita yang dialami bangsa kita.

Sejarah terlalu biasa menuliskan catatan-catatan indah dan heroisme, maka membaca buku ini akan terasa kontras. Demokrasi memberi nilai lebih terhadap kemauan untuk menerima derita dan kekalahan. Demokrasi menjadi semu ketika derita-derita itu diheroisasi, menjadi sejarah teatrikal yang ditulis penuh kegagahan. Perjuangan terhadap perubahan merupakan upaya membentur-benturkan diri pada zaman, kekalahan atau derita dalam harapan merupakan harga yang harus dibayarkan.

Kegetiran-kegetiran akan begitu terasa menyimak perjuangan anak-anak manusia (pahlawan?), yang secara teguh memperjuangkan prinsip. Risiko menjadi aktivis politik sungguh sangat riskan. Takashi Shiraishi memaparkan begitu mengerikannya diawasi intelijen kolonial yang segera bisa menjadi “tiket” dibuang ke Digul. Frustrasi dan mati dalam sepi ketika dibuang, merupakan sebuah risiko perjuangan yang harus diterima.

***

TUTURAN Shiraishi seakan mengingatkan dahsyatnya tetralogi spektakuler Pramudya Ananta Toer (terutama Rumah Kaca) serta Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Hidup adalah berjudi, kita tak tahu apa yang akan terjadi pada nasib kita ketika dadu sudah dilemparkan. Sungguh terasa di sana, bahwa peziarahan seorang anak manusia akan begitu bermakna ketika manusia itu konsisten memperjuangkan idealisme. Kemenangan atau kekalahan, menjadi pecundang atau menjadi pahlawan, hanyalah sebuah permainan nasib yang jaraknya hanya sebatas ujung kuku.

Kegetiran lain dari perjalanan Indonesia menuju bangsa begitu terasa, ketika harapan akan kecerahan demokrasi lalu “diaborsi”. Titik cerah demokrasi akhirnya harus sirna ketika disabot oleh tentara. Ironisnya tentara sendiri ternyata tak mampu menjaga bangsa dari serangan eksternal seperti seharusnya, ternyata tentara memang dipersiapkan untuk “menjaga” keamanan dalam negeri.

Akibat hegemoni tentara, demokrasi hingga kini akhirnya hanya sebatas angan belaka, politik intimidasi dan kekerasan telah merajalela. Tak mengherankan bila para Indonesianist merekomendasikan harus diakhirinya aktivitas politik tentara. Keahlian tentara adalah memainkan senjata, sedangkan keahlian sipil adalah membuat kompromi, tegas Daniel Lev.

Peristiwa G30S PKI merupakan kegetiran yang lain, PKI dianggap kejam, namun pembunuhan terhadap ratusan ribu manusia yang dicurigai PKI dianggap hal biasa. Tidak ada something deeply wrong, kematian manusia PKI adalah hal biasa. Goenawan mengingatkan, seharusnya ketakutan bukan hanya untuk PKI namun juga harus mencakup anti-PKI-nya, tetap harus keduanya.

Ia juga mengingatkan bangsa ini yang memorinya pendek, akibatnya tragedi dapat terjadi berulang kali. Tak mengherankan bila ia menekankan pentingnya belajar sejarah; kata orang Perancis l’histoire se repete (sejarah akan berulang).

***

NARA sumber dari buku ini mayoritas dari luar negeri yang kepakarannya tentang Indonesia tidak perlu diragukan. Akibat banyaknya nara sumber, buku ini bukan telaahan yang sangat mendalam. Namun itulah sekaligus kekuatannya, buku ini menjadi kaya perspektif dan begitu kaya informasi yang sulit dicari di tempat lain.

Buku ini bisa menjadi pancingan untuk kajian yang lebih dalam akan sejarah Indonesia. Sejarah Indonesia terlalu banyak dimanipulasi untuk legitimasi, buku ini bisa menjadi langkah awal upaya klarifikasi sejarah. Masa lalu akan menentukan masa kini, masa kini akan menentukan masa depan, bagaimana kalau masa lalu telah dimanipulasi?

Buku diresensi oleh Setyo Budiantoro, dimuat di Kompas tahun 1999

********
Mencari Demokrasi;
Benedict Anderson, Clifford Geertz, Daniel S. Lev, George McT. Kahin,
Goenawan Mohamad, Takashi Shiraishi, William Liddle
Institut Studi Arus Informasi (ISAI), 272 halaman
**************

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!