IMF dan Dilema Zona Euro

Zona Euro melempar handuk. Krisis Yunani terlalu berat diatasi oleh zona tersebut sendirian. Meskipun pada awalnya Perancis menentang, namun akhirnya luluh juga. International Monetery Fund (IMF) dengan berat hati diminta ikut membantu krisis Yunani. Zona Euro akan menanggung dua pertiga paket jumlah hutang yang dibutuhkan, sedangkan IMF menanggung sepertiga.

Masuknya IMF ke Eropa Barat adalah pukulan telak bagi kredibilitas Uni Eropa. Sulit dipungkiri, bersatunya Uni Eropa adalah tandingan terhadap kedigdayaan Amerika Serikat. Negara Paman Sam ini memang menghadapi krisis finansial yang hebat, namun secara perlahan kini keluar dari krisis tanpa perlu terlalu banyak campur tangan lembaga keuangan internasional. Sayangnya, Zona Euro tak setangguh itu.

Berkebalikan dengan pamor Uni Eropa yang meredup, IMF justru bersinar kembali. Lembaga dana moneter internasional ini dikenal lebih banyak mengalami kegagalan membantu negara-negara yang mengalami krisis. Indonesia, Argentina, Urugay dan Republik Dominika adalah beberapa contoh negara dibantu IMF, namun justru makin parah keadaanya. Bukan hanya kritik dari Stiglitz yang dikenal kritis terhadap IMF yang menyebut “rumah sakit yang membuat makin sekarat”, kegagalan ini bahkan diakui oleh Kenneth Rogoff, mantan Kepala Ekonom IMF.

IMF sebelumnya diibaratkan seperti penyakit kusta yang dijauhi, bahkan oleh negara-negara miskin di Afrika. Daripada meminta bantuan ke IMF, negara-negara tersebut justru memilih minta bantuan ke China. Akibat anjloknya pendapatan IMF sempat mengalami krisis dan terpaksa menjual cadangan emas, lalu berencana melakukan rasionalisasi (PHK dan pensiun dini). Sungguh ironis, lembaga yang membantu krisis namun justru mengalami krisis.

Di tengah krisis internal dan bahkan tuntutan penutupan IMF, pertemuan G-20 bulan April 2009 di Inggris merupakan penyelamat IMF. Pertemuan tersebut justru menyepakati suntikan dana tambahan bagi IMF sebesar 500 miliar dolar AS. Sementara itu, menyadari kredibilitasnya yang runtuh maka IMF mereformasi dirinya dan mulai mendengarkan pandangan-pandangan dari para pengkritiknya.

Kesolidan pandangan ortodoksi IMF mulai memudar dan bukan pandangan tunggal lagi. Setidaknya ini bisa dilihat dari paper dari IMF yang mulai mempertanyakan target inflasi yang terlalu rendah. Sektor swasta bisa berharap adanya suku bunga yang lebih rendah sehingga bisa melakukan eskpansi. Kebaruan pemikiran ini juga melegakan pihak pemerintah sehingga mempunyai lebih banyak ruang mengambil kebijakan terutama untuk meningkatkan kesempatan kerja.

Paper lain yang menarik adalah terbukanya pandangan terhadap pengendalian modal asing (hot money). Desakan sistem devisa bebas yang didesakkan oleh IMF pada krisis 1997-1998 di Indonesia dan Thailand adalah mimpi buruk. Krisis nilai tukar yang parah dan tak pernah dibayangkan sebelumnya, membuat dua negara terjerumus dalam krisis makin dalam. Meski terlambat, revisi pandangan ini adalah perubahan yang sangat maju bagi lembaga sekonservatif IMF.

Indikasi perubahan pandangan, bukan berarti otomatis terjadi perubahan kebijakan. IMF memang mendukung defisit raksasa dari Amerika, kebijakan suku bunga nyaris nol dan monetary supply yang tinggi. Namun, Mark Weisbrot mencatat kebijakan yang bertolak belakang dilakukan bagi Ukraina.

IMF justru mendesak agar pemerintah Ukraina mengkerutkan diri dengan memotong pengeluaran pemerintah dan mengetatkan defisit. Akibatnya, ekonomi Ukraina lalu merosot sebesar 15%. Lebih lanjut lagi, kebijakan capital control pada Ukraina juga didesak untuk dirubah.

IMF kini tampaknya juga akan melakukan dobel standar kebijakan bagi Yunani, seperti halnya Ukraina. Inilah kini yang membuat Yunani masih mencari jalan berbeda yang ditawarkan IMF. Yunani merasa ongkos politik proposal yang ditawarkan IMF terlalu tinggi. Akibat Yunani belum menerima IMF, setelah mengalami beberapa hari kenaikan,  kini nilai mata uang euro anjlok kembali.

Meskipun belum terlalu jelas konsep yang ditawarkan sehingga Yunani mencari jalan lain, namun situasi ini mengingatkan kondisi Indonesia setelah menelan pil pahit IMF dan kerusuhan politik justru makin merajalela. Disamping mengalami krisis ekonomi, Yunani kini mengalami krisis politik akibat demonstrasi besar-besaran. Dalam pelik ini, resep ekonomi memang tidak bisa hanya sekedar textbook thinking namun harus mempertimbangkan situasi politik.

Yunani kini sungguh mengalami dilema yang pelik akibat keterbatasan pilihan. Dilema ini juga dialami zona euro, apakah akan membiarkan negara dalam wilayahnya terus tenggelam dalam krisis yang makin dalam dan makin meruntuhkan kredibilitasnya di mata internasional. Tampaknya Uni Eropa perlu segera bertemu lagi untuk menyelesaikan persoalan Yunani, sebelum merembet ke Portugal, Italia dan Irlandia sehingga membuat krisis makin sulit diatasi.****

Ditulis Setyo Budiantoro, dimuat di Kontan 13 April 2010

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!