Keajaiban Pertanian

Ada hal aneh dari foto ini. Namun sy yakin, sebagian besar yg melihat pasti tidak menemui keanehan itu. Sebelum membaca lebih lanjut, silahkan perhatikan & tebak. Foto ini memperlihatkan hal yg “biasa”, halaman rumah, pohon2 & rumput yg subur. Bila sudah menebak, mari kita bahas lebih lanjut.

Sebenarnya, foto ini memang tidak aneh dari sisi pepohonan atau tanaman yg ditanam. Yang “janggal”, lokasi dari tempat foto. Ini difoto di Dubai (Uni Emirat Arab), sebuah tempat yg hamparannya padang pasir. Tanaman yg hijau subur ini, ditanam di atas padang pasir.

Usaha untuk membuat tanaman ini tumbuh & subur, tentu bukan hal mudah. Dibutuhkan air yg sangat banyak utk membuat dia tidak layu & mengering, karena teriknya matahari. Menanam di atas pasir, pasti bukan main susahnya. Ini disiasati untuk penyiraman dengan selang air (kecil), sepanjang tanaman (semacam drip irrigation).

Dalam skala besar, sistem penanaman seperti ini juga sy lihat waktu menelusuri hamparan lahan pertanian di Jerman. Efisiensi air & pertanian presisi adalah kunci dalam produktivitas pertanian, terutama kini dalam menghadapi perubahan iklim. Sistem irigasi tradisional utk pertanian diperkirakan mengkonsumsi 70 persen air.

Kembali ke soal menanam di padang pasir. Sayang kesempatan melihat penanaman sayur & buah di padang pasir Uni Emirat Arab, batal utk dikunjungi karena ada hal yg diluar kemampuan kami. Padahal, sy ingin sekali melihat. Tapi terlepas dari itu, penanaman tanaman di padang pasir ini membuat kagum & sekaligus sedih.

Bila ingin melihat keajaiban pertanian di padang pasir, salah satu sebenarnya dalam skala besar yg fenomenal adalah di Israel. Bila melihat data ekspornya, nilai ekspor terkait pertanian seperti buah tropis (& jus buah), sayuran, minyak zaitun, kurma, pupuk, pestisida, dll cukup besar. Yang menarik, Palestina adalah tujuan ekspor terbesar ketiga (sekitar 7 persen) setelah Amerika & China. Sebaliknya, Israel adalah mayoritas tujuan ekspor Palestina (sebesar 77 persen). Secara ekonomi, hubungan dagang Israel & Palestina sangat erat. Bahkan, bisa dikatakan Palestina secara ekonomi tergantung pada Israel.

Kembali soal pertanian di padang pasir. Saya kagum dengan kemampuan teknologi & determinasinya menyulap padang pasir menjadi lahan subur, sedih bila melihat kondisi Indonesia. Pasti tidak ada yg meragukan suburnya Indonesia, namun banyak harga pangan seperti tidak terkendali sejak dahulu.

Ketergantungan pada impor bahan pangan (misalnya kedelai yg baru2 ini marak), seperti cerita yg terus berulang. Rasanya kenaikan harga komoditas pertanian/daging seperti lotere, tinggal tunggu saja bergantian naik sepanjang waktu. Sy tidak tahu apa yg dilakukan dalam riset & pengembangan pertanian, kenapa banyak produk pertanian kita tidak kompetitif & bahkan seperti mengalami food trap. Tidak perlu jauh2 ke Israel, ke negara tetangga Thailand atau Vietnam kemampuan kita di pertanian lebih kedodoran.

Bukan hanya soal pertanian sebenarnya, peternakan kita seperti kebutuhan daging sapi juga banyak diimpor. Padahal, bukan main luasnya kita punya lahan perkebunan sawit sampai jutaan hektar. Dengan mengintegrasikan kebun sawit & peternakan sapi, bukan hanya kita tidak butuh daging impor namun kita akan menjadi pengekspor besar daging sapi. Hijauan antar pohon yg dipotong serta bungkil (sisa sawit) adalah makanan “gratis” bagi sapi. Seperti kita tahu, 80 persen biaya peternakan adalah untuk pakan. Lalu, kotoran sapi juga menjadi pupuk organik gratis bagi kebun sawit atau komoditas pertanian lain.

Kadang2 banyak hal yg sulit sy pahami, ini yang mungkin juga membuat Presiden Joko Widodo  marah kenapa kita terlalu banyak impor. Mari dipetakan satu2, barang2 pertanian/peternakan apa kita yang terlalu banyak diimpor, lalu dikembangkan di dalam negeri sambil dijalankan proses transisinya secara bertahap mensubstitusi impor. Tidak perlu semuanya, tapi kita petakan yg signifikan & picking winners.

Konsentrasi policy & fiskal pada 3 komoditas strategis misalnya, pastinya ini tidak mudah tapi bukan hal yang mustahil. Melalui ini bukan hanya mengurangi defisit perdagangan, namun kita juga akan bisa menyerap tenaga kerja pertanian (smart farming) yang cukup banyak.  Ini seharusnya menjadi salah satu kunci indikator keberhasilan pengembangan pertanian.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!